"Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (QS. Al-Hajj: 77)
Ayat ini merupakan ayat kedua terakhir dari surah yang unik dan istimewa, surah al-Hajj. Dikatakan surah yang unik karena sebagian ulama tafsir menggolongkan surah ini ke dalam kategori surah Makkiyah, namun sebagian yang lain justru sebaliknya menggolongkannya ke dalam kategori surah Madaniyah. Surah ini juga unik karena di dalamnya ada dua ayat sajdah, yaitu ayat 18 dan ayat ini seperti yang di pahami dari sebuah riwayat dari Uqbah bin Amir:
”Keutamaan surah al-Hajj karena terdapat dua ayat sajdah padanya. Barangsiapa yang tidak bersujud pada keduanya, janganlah ia membaca surah ini.” (HR. at-Tarmidzi dan Abu Dawud)
Ayat ini menggambarkan secara ringkas manhaj Allah SWT untuk manusia dan beban taklif bagi mereka agar mendapatkan keselamatan dan kemenangan. Ia di awali dengan perintah untuk rukuk dan sujud yang merupakan gambaran gerakan shalat yang tampak dan jelas, dilanjutkan dengan perintah untuk beribadah secara umum yang meliputi segala gerakan, amal dan pikiran yang di tujukan hanya kepada Allah SWT sehingga segala aktivitas manusia bisa beralih menjadi ibadah bila hati ditujukan hanya kepada Allah SWT bahkan Kenikmatan-kenikmatan dari kelezatan hidup dunia yang dirasakannya dapat bernilai ibadah yang di tulis sebagai pahala amal baik .
Ayat ini di tutup dengan perintah berbuat baik secara umum dalam hubungan horizontal dengan manusia setelah perintah untuk membangun hubungan vertikal dengan Allah SWT, dalam shalat dan ibadah lainnya. Oleh sebab itu, perintah ibadah dimaksudkan agar umat Islam selalu terhubung dengan Allah SWT sehingga kehidupan berdiri di atas fondasi yang kukuh dan jalur yang dapat membawa kepada-Nya. Sedangkan perintah untuk melakukan kebaikan, dapat membangkitkan kehidupan yang istiqamah dan kehidupan masyarakat yang penuh dengan suasana kasih sayang.
Perintah ini dipertegas kembali di akhir surah al-Hajj, bahwa umat Islam akan mampu mempertahankan eksistensinya sebagai umat pilihan dan sebagai saksi atas umat yang lain manakala mampu membina hubungan baik dengan Allah SWT dan membina hubungan baik sesama manusia:
”Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (AL-Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah pelindungmu, Dialah sebaik-baik pelindung dan Sebaik-baik penolong.” (QS. al-Hajj:78)
Pada ayat di atas, Allah SWT memberi perintah kepada orang beriman agar mampu membangun kesalehan personal dan sosial secara bersamaan agar senantiasa dalam kemenangan, rukuk dan sujud merupakan cermin tertinggi dari pengabdian seseorang kepada Allah SWT, sedang ”berbuatlah kebaikan” merupakan indikasi kesalehan sosial.
Secara redaksional dalam urutan perintah ayat di atas, ternyata Allah SWT mendahulukan kesalehan personal dari kesalehan sosial. Ini berarti bahwa untuk membangun kesalehan sosial, harus dimulai dengan kesalehan personal. Atau kesalehan personal akan memberikan kekuatan untuk saleh juga secara sosial. Bahkan seluruh perintah beribadah kepada Allah SWT dimaksudkan agar lahir darinya kesalehan sosial, seperti shalat misalnya, bagaimana ia bisa mencegah dari perbuatan keji dan munkar:
“Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar.” (QS. Al Ankabut : 45)
Kisah yang diabadikan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya bagaimana seorang wanita yang saleh secara personal yang diwujudkan dengan ibadah shalat, puasa dan ibadah mahdhah lainnya namun ternyata Rasulullah SAW menyatakan bahwa ia dalam neraka. Karena ternyata kesalehan itu tidak membawanya menuju kesalehan sosial, bahkan ia cenderung tidak mampu menjaga lisannya dari tidak melukai hati orang lain.
Dalam tataran tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, terdapat beberapa hubungan dan korelasi (munasabah) yang sangat erat antara kesalehan personal dan sosial dengan nilai-nilai mulia dari ajaran Islam. Untuk menggapai predikat ihsan misalnya, seseorang dituntut untuk mampu sholeh secara individu dan sosial yang diwakili dengan shalat malam dan berinfak,
“Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar. Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (QS. Adz-Dzariyat : 16-19)
Ibnu Asyur mengomentari ayat ini dengan menjelaskan bahwa dua bentuk amal inilah yang sangat berat untuk dilakukan karena: pertama, bangun malam merupakan sesuatu yang sangat berat karena mengganggu istirahat seseorang. Padahal amal itu merupakan amal yang paling utama untuk membangun kesalehan personal seseorang. Kedua, amal yang melibatkan harta terkadang sangat sukar untuk dipenuhi karena manusia pada dasarnya memiliki sifat kikir dengan sangat mencintai hartanya. Di sinilah Allah SWT menguji kesalehan sosial seseorang dengan memintanya untuk mengeluarkan sebagian harta untuk mereka yang membutuhkan.
Nilai lain yang terkait dengan dua kesalehan ini, adalah sebab utama yang paling banyak menjerumuskan seseorang ke dalam neraka karena tidak mampu membentengi diri dengan dua kesalehan tersebut, seperti pernyataan jujur penghuni neraka yang diabadikan Allah SWT dalam firman-Nya,
“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab, ’Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat dan kami tidak pula memberi makan orang miskin dan adalah kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya.” (QS. Al-Mudatsir : 42-45)
Resep agar tidak bersifat keluh kesah lagi kikir juga sangat terkait dengan kemampuan seseorang membangun dalam dirinya dua kesalehan tersebut secara simultan. Allah SWT memberi jaminan,
“Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang miskin yang meminta dan orang yang tidak memiliki apa-apa (yang tidak mau meminta).” (QS. Al-Ma’arij : 22-25)
Berapa banyak dari umat ini yang hanya mementingkan saleh secara sosial tapi lupa akan hubungan baik dengan Allah SWT. Sebaliknya, banyak juga yang saleh secara personal namun ketika berhadapan dengan sosial, ia larut dan tidak mampu membangun kesalehan di tengah-tengah mereka. Sungguh umat ini sangat membutuhkan kehadiran komunitas yang saleh secara personal, dalam arti mampu menjaga hubungan baik dengan Allah SWT. Saleh secara sosial dalam arti mampu memelihara hubungan baik dan memberi kebaikan dan manfaat yang besar bagi kemanusiaan. (Allahu a’lam)
Kamis, 29 April 2010
Kamis, 01 April 2010
karena kita bersaudara
Assalaamu'alaikum wr.wb.,
Dalam sebuah hadist Rasul memberitahukan dan mewajibkan kita sekalian bahwa sesungguhnya sesama muslim itu adalah (harus/ wajib) bersaudara. dalam riwayat yang lain dikatakan bahwa Sesama muslim adalah ibarat satu tubuh. serta dalam hadist yang lain Rasul pun bersabda "tidak beriman di antara kalian sehingga kalian mencintai saudara kalian sebagaimana kalian mencintai diri sendiri.
Ciri-ciri bahwa kita mencintai saudara kita adalah ketika hati kita menghendaki segala bentuk kebaikan ada pada saudara kita. Bagi saudara kita yang saat ini sedang dalam kesempitan, maka kita berharap dan berdoa smoga Allah segera melapangkannya. bagi saudara kita yang sedang dalam kesulitan, maka kita berdoa smoga Allah segera memudahkan urusannya dan semaksimal mungkin meringankan beban mereka.
Kita pun berharap dan berdoa agar Allah menyembuhkan saudara kita yang sedang sakit, menghibur mereka yang sedang berduka, memberikan makanan bagi saudara kita yang sedang kelaparan, dan bahkan memberikan mereka keamanan dan kemerdekaan serta kemenangan bagi saudara kita yang saat ini sedang merasa terancam karena ditindas, dijajah dan dianiaya oleh orang yang memusuhi dan membenci mereka karena mereka beriman kepada Allah SWT.
Maka sebaliknya, ketika di hati kita tidak ada kepedulian kepada saudara seiman (walaupun mereka sedang terancam jiwa, harta dan agamanya) maka sesungguhnya (sesuai hadist di atas) kita bukanlah orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya.
Lalu... kita beriman kepada siapa?
(Na'udzubillaahi min dzaalik)
Penulis mengajak kepada diri sendiri, keluarga dan Saudara semua, marilah kita peduli kepada saudara kita di daerah minus yang menjadi sasaran pemurtadan, saudara kita yang sedang ditimpa bencana alam, saudara kita yang lemah ilmu dan harta sehingga sangat mungkin membuat mereka lemah iman, bahkan saudara kita di mana saja mereka berada yang saat ini sedang dirampas harta bendanya kemudian diusir dari rumah dan tanah mereka sendiri, suami dan anak laki-laki mereka dibunuh dengan kejam di sana-sini.
Kasus di Irak, Kashmir, Cechnya, dan Palestina menjadi bukti...!
Pedulikah kita kepada mereka? jika tidak sama sekali... masih adakah iman di hati..???
Astaghfirullaahal adzim wa atuubu ilaih.
Wassalaamu'alaikum Wr. Wb.
Dalam sebuah hadist Rasul memberitahukan dan mewajibkan kita sekalian bahwa sesungguhnya sesama muslim itu adalah (harus/ wajib) bersaudara. dalam riwayat yang lain dikatakan bahwa Sesama muslim adalah ibarat satu tubuh. serta dalam hadist yang lain Rasul pun bersabda "tidak beriman di antara kalian sehingga kalian mencintai saudara kalian sebagaimana kalian mencintai diri sendiri.
Ciri-ciri bahwa kita mencintai saudara kita adalah ketika hati kita menghendaki segala bentuk kebaikan ada pada saudara kita. Bagi saudara kita yang saat ini sedang dalam kesempitan, maka kita berharap dan berdoa smoga Allah segera melapangkannya. bagi saudara kita yang sedang dalam kesulitan, maka kita berdoa smoga Allah segera memudahkan urusannya dan semaksimal mungkin meringankan beban mereka.
Kita pun berharap dan berdoa agar Allah menyembuhkan saudara kita yang sedang sakit, menghibur mereka yang sedang berduka, memberikan makanan bagi saudara kita yang sedang kelaparan, dan bahkan memberikan mereka keamanan dan kemerdekaan serta kemenangan bagi saudara kita yang saat ini sedang merasa terancam karena ditindas, dijajah dan dianiaya oleh orang yang memusuhi dan membenci mereka karena mereka beriman kepada Allah SWT.
Maka sebaliknya, ketika di hati kita tidak ada kepedulian kepada saudara seiman (walaupun mereka sedang terancam jiwa, harta dan agamanya) maka sesungguhnya (sesuai hadist di atas) kita bukanlah orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya.
Lalu... kita beriman kepada siapa?
(Na'udzubillaahi min dzaalik)
Penulis mengajak kepada diri sendiri, keluarga dan Saudara semua, marilah kita peduli kepada saudara kita di daerah minus yang menjadi sasaran pemurtadan, saudara kita yang sedang ditimpa bencana alam, saudara kita yang lemah ilmu dan harta sehingga sangat mungkin membuat mereka lemah iman, bahkan saudara kita di mana saja mereka berada yang saat ini sedang dirampas harta bendanya kemudian diusir dari rumah dan tanah mereka sendiri, suami dan anak laki-laki mereka dibunuh dengan kejam di sana-sini.
Kasus di Irak, Kashmir, Cechnya, dan Palestina menjadi bukti...!
Pedulikah kita kepada mereka? jika tidak sama sekali... masih adakah iman di hati..???
Astaghfirullaahal adzim wa atuubu ilaih.
Wassalaamu'alaikum Wr. Wb.
Minggu, 31 Januari 2010
2 tetesan dan 2 bekas yang paling dicintai Allah SWT...
Dalam sebuah hadist riwayat tirmidzi, 2 tetesan yang paling dicintai Allah adalah :
1. tetesan air mata karena takut kepada Allah
2. tetesan darah ketika jihad di jalan Allah
dan 2 bekas yang paling dicintai Allah adalah:
1. bekas luka karena jihad di jalan Allah
2. bekas langkah kaki ketika sungguh - sungguh melaksanakan dan menegakkan syariat Allah.
Wallaahu a'lam. smoga manfaat dan menjadi kebaikan.
1. tetesan air mata karena takut kepada Allah 2. tetesan darah ketika jihad di jalan Allah
dan 2 bekas yang paling dicintai Allah adalah:
1. bekas luka karena jihad di jalan Allah
2. bekas langkah kaki ketika sungguh - sungguh melaksanakan dan menegakkan syariat Allah.
Wallaahu a'lam. smoga manfaat dan menjadi kebaikan.
Perkara terbesar dalam hidup...
Suatu pagi, ketika kuliah baru saja di mulai, seorang dosen meletakkan beberapa ember/ timba. 1 timba berisi 1 (satu) batu besar, 1 timba yang lain berisi kerikil, 1 timba yang lain lagi berisi pasir, 1 timba berisi air dan 1 ember (yang paling besar) dalam keadaan kosong.kemudian sang dosen bertanya pada mahasiswanya, bagaimana kita bisa memenuhi ember yang kosong ini dengan beberapa material berupa batu besar, kerikil, pasir dan air dengan catatan tidak boleh tumpah. Maka setelah berpikir, beberapa mahasiswa berbeda pendapat. ada yang mulai dari kerikil baru pasir kemudian batu besar dan air. Ada yang mulai dari memasukkan pasir, kerikil kemudian air baru kemudian batu besar sehingga airnya pun tumpah. Dan ada seorang mahasiswa yang dengan tenang memulai dengan meletakkan 1 batu besar, kemudian kerikil, baru pasir dan terakhir air sehingga ember kosong itu terisi penuh dengan sempurna.
Sang dosen Pun kemudian menjelaskan bahwa yang paling benar adalah yang terkahir ini.
Kemudian salah seorang mahasiswa bertanya, mohon bapak jelaskan kepada kami mengapa yang terakhir itu yang paling benar.
sang dosen pun menjelaskan :
" Saudara sekalian, sebenarnya ini adalah pelajaran hikmah,
ember kosong ini ibarat jatah usia kita, yang harus kita isi agar hidup kita bermakna dan bernilai di sisi Allah SWT.
Maka yang pertama kita harus mengisinya dengan perkara yang utama dan terpenting ( yang diibaratkan batu besar ).
Tentu saja ember tidak akan terpenuhi hanya dengan batu besar sehingga untuk mengisi ruang - ruang kosong dalam ember perlu ditambah dengan kerikil (perkara penting tapi bukan yang terpenting).
Apakah ember tadi sudah penuh ketika telah diisi batu besar dan kerikil, tentu saja belum karena pasti masih ada ruang - ruang kosong disela-sela batu besar dan kerikil, sehingga perlu diisi dengan materi yang lebih kecil lagi yakni pasir.
Nah, apakah ember sudah penuh dengan sempurna, tentu saja belum. Oleh karena itu perlu ditambah air sehingga ember penuh dengan sempurna.
Begitulah seharusnya kita mengisi umur kita yang terbatas ini. isilah umurmu dengan perkara yang terpenting dulu ( yakni AGAMA / aqidah tauhid dan segala upaya agar istiqomah di dalamnya), baru kemudian perkara penting namun bukan yang terpenting (kerikil), perkara ringan / kecil (pasir) dan agar tidak jenuh kita butuh penyegar suasana dan penyempurna bahagia (air)."
Pastikan bahwa perkara terpenting hidup Anda adalah AQIDAH Anda (karena itu adalah bekal utama bagi kehidupan kita setelah kehidupan di dunia, baru kemudian Silahkan pilih perkara penting/ ringan/ kecil dan penyempurnanya (tentu saja yang tidak merusak Aqidah kita)!
Wallaahu a'lam. Subhaanakallaahumma wa bikhamdika asyhadu allaa ilaaha illaa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika.
Selasa, 03 November 2009
Resiko Besar bagi Perokok
Dakwatuna.com - Melbourne, Pria perokok mungkin merasa bahagia saat kumpul dengan teman-temannya, namun tidak dengan pasangannya di ranjang. Berdasarkan studi di Australia, pria yang merokok berisiko empat kali lebih sulit mencapai orgasme dibanding pria yang tidak merokok.
Hasil studi menunjukkan bahwa masalah seksual pada pria yang sering muncul ada dua jenis, yaitu tidak bisa mencapai klimaks dan terlalu cepat terangsang (ejakulasi dini). Namun masalah yang banyak dialami pria perokok adalah kesulitan mencapai klimaks atau orgasme.
Peneliti dari University of Melbourne Research Center in Sex, Health and Society menyebutkan bahwa pria yang sering merokok rata-rata mengalami ejakulasi dini hingga tiga kali lebih tinggi dibanding pria yang tidak merokok. Sementara itu, mereka yang sulit mencapai klimaks atau orgasme jauh lebih besar yaitu empat kali lipat.
“Jika sudah begitu, pria perlu pengobatan medis untuk memperlambat orgasme dan atau mencapai orgasme,” ujar Anthony Smith, seorang profesor di Universitas tersebut seperti dikutip dari LimeLife, Selasa (20/10/2009).
Selain itu, gangguan seksual pada pria meliputi gangguan libido dan ereksi. Gangguan disfungsi ereksi (DE) dan kesulitan mencapai orgasme adalah yang paling banyak terjadi pada perokok.
Cara pengobatan yang kini lazim dipakai adalah, pertama-tama menghentikan kebiasaan merokok. Kemudian dicoba dengan arterialisasi atau semacam bedah by-pass dengan menambah pembuluh darah baru pada penis yang diambil dari pembuluh darah pada bagian lain tubuh. Namun keberhasilan dari pengobatan ini tidak bisa mencapai 100 persen.
Tidak hanya gangguan fungsi seksual, seseorang yang merokok pun kualitas spermanya akan berkurang. Seorang yang merokok selama bertahun-tahun akan tercemar darahnya oleh nikotin yang melalui pembuluh darah akan dibawa ke seluruh tubuh, termasuk ke organ reproduksi.
Racun nikotin akan berpengaruh terhadap spermatogenesis atau proses pembelahan sperma para pria. Padahal pembelahan itu sangat kompleks, yang kemudian bisa menjadi gen dari si pemilik sperma. Jadi bila terjadi kegagalan pada proses spermatogenesis tersebut, pria bisa menurunkan gen cacat pada anaknya kelak.
Rokok bagaikan pabrik bahan kimia yang memiliki senyawa beracun diantaranya CO, nitrogen oksida, sianida, hidrogen, amonia, asetilen, benzaldehida, benzena, metanol, yang semuanya bisa mengganggu kesehatan, termasuk organ reproduksi.
Apakah Anda masih merasa nyaman untuk melanjutkan aktifitas merokok Anda?
Hasil studi menunjukkan bahwa masalah seksual pada pria yang sering muncul ada dua jenis, yaitu tidak bisa mencapai klimaks dan terlalu cepat terangsang (ejakulasi dini). Namun masalah yang banyak dialami pria perokok adalah kesulitan mencapai klimaks atau orgasme.
Peneliti dari University of Melbourne Research Center in Sex, Health and Society menyebutkan bahwa pria yang sering merokok rata-rata mengalami ejakulasi dini hingga tiga kali lebih tinggi dibanding pria yang tidak merokok. Sementara itu, mereka yang sulit mencapai klimaks atau orgasme jauh lebih besar yaitu empat kali lipat.
“Jika sudah begitu, pria perlu pengobatan medis untuk memperlambat orgasme dan atau mencapai orgasme,” ujar Anthony Smith, seorang profesor di Universitas tersebut seperti dikutip dari LimeLife, Selasa (20/10/2009).
Selain itu, gangguan seksual pada pria meliputi gangguan libido dan ereksi. Gangguan disfungsi ereksi (DE) dan kesulitan mencapai orgasme adalah yang paling banyak terjadi pada perokok.
Cara pengobatan yang kini lazim dipakai adalah, pertama-tama menghentikan kebiasaan merokok. Kemudian dicoba dengan arterialisasi atau semacam bedah by-pass dengan menambah pembuluh darah baru pada penis yang diambil dari pembuluh darah pada bagian lain tubuh. Namun keberhasilan dari pengobatan ini tidak bisa mencapai 100 persen.
Tidak hanya gangguan fungsi seksual, seseorang yang merokok pun kualitas spermanya akan berkurang. Seorang yang merokok selama bertahun-tahun akan tercemar darahnya oleh nikotin yang melalui pembuluh darah akan dibawa ke seluruh tubuh, termasuk ke organ reproduksi.
Racun nikotin akan berpengaruh terhadap spermatogenesis atau proses pembelahan sperma para pria. Padahal pembelahan itu sangat kompleks, yang kemudian bisa menjadi gen dari si pemilik sperma. Jadi bila terjadi kegagalan pada proses spermatogenesis tersebut, pria bisa menurunkan gen cacat pada anaknya kelak.
Rokok bagaikan pabrik bahan kimia yang memiliki senyawa beracun diantaranya CO, nitrogen oksida, sianida, hidrogen, amonia, asetilen, benzaldehida, benzena, metanol, yang semuanya bisa mengganggu kesehatan, termasuk organ reproduksi.
Apakah Anda masih merasa nyaman untuk melanjutkan aktifitas merokok Anda?
Kamis, 22 Oktober 2009
agar Aktifitas Kita Bernilai Ibadah
Dalam hadist riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW pernah bersabda (yang bunyinya) :
Innamaa a'maalu binniyaat (sesungguhnya amal perbutan itu tergantung pada niatnya).
Kemudian kita juga mendapatkan hadist riwayat Muslim ( yang berbunyi) :
"man 'amila 'amalan laisa alaihi amrunaa fahuwa roddun" (barang siapa yang mengerjakan amalan (ubudiah)yang tidak pernah kami perintahkan, maka amalan itu tertolak). (mohon dikoreksi bila ada kesalahan redaksi/ makna/ lainnya)
Dari dua hadist tersebut di atas, maka bagi kita yang ingin agar amal kita bernilai sebagai amal ibadah maka harus ada di dalamnya dua hal, yakni NIAT yang IKHLAS dalam hati (faktor internal) dan amal yang kita kerjakan dalam rangka melaksanakan perintah Allah SWT dan Rasulullah SAW (faktor eksternal).
tentang dua syarat tersebut Allah juga menjelaskan dalam Alqur'an :
"Dan barang siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah sedang dia orang yang mengerjakan kebaikan, maka sesungguhnya dia telah berpegang teguh pada buhul tali Allah yang kokoh..." (Q.S. Lukman : 22)
"Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia senantiasa mengerjakan kebaikan..." ( Q.S. An- Nisa: 125)
Yang dimaksud menyerahkan diri kepada Allah dalam dua kutipan ayat di atas adalah meng IKHLAS kan niat atas segala amal perbuatan hanya karena (pra-moment), dengan(in-moment) dan untuk(pasca-moment) Allah SWT (semata)tanpa disertai dengan tujuan yang lain. Sedangkan yang dimaksud "mengerjakan kebaikan" pada 2 ayat tersebut di atas ialah mengerjakan amal perbuatan dalam rangka melaksanakan perintah Allah dan Rasulullah dengan berusaha semaksimal mungkin agar tata cara pelaksanaannya bisa mengikuti contoh yang diberikan Rasulullah melalui sunnah Beliau dan sunnah para sahabat-sahabat beliau (khulafaaurraasyidiin).
Nah, untuk bisa mengikuti tata cara pelaksanaan amal ibadah agar sesuai dengan sunnah Rasulullah dan para sahabatnya kita harus memiliki ilmunya. Dengan demikian, ilmu juga menjadi syarat diterimanya amal ibadah kita oleh Allah SWT ( man 'amila 'amalan laisa alaihi ilmun fahuwa raddun: barang siapa mengerjakan amalan tanpa disertai dengan ilmu tentangnya maka amalan itu tertolak )
dengan demikian kita akan mendapatkan beberapa bentuk amal perbuatan :
Terima kasih. semoga manfaat.
Innamaa a'maalu binniyaat (sesungguhnya amal perbutan itu tergantung pada niatnya).
Kemudian kita juga mendapatkan hadist riwayat Muslim ( yang berbunyi) :
"man 'amila 'amalan laisa alaihi amrunaa fahuwa roddun" (barang siapa yang mengerjakan amalan (ubudiah)yang tidak pernah kami perintahkan, maka amalan itu tertolak). (mohon dikoreksi bila ada kesalahan redaksi/ makna/ lainnya)
Dari dua hadist tersebut di atas, maka bagi kita yang ingin agar amal kita bernilai sebagai amal ibadah maka harus ada di dalamnya dua hal, yakni NIAT yang IKHLAS dalam hati (faktor internal) dan amal yang kita kerjakan dalam rangka melaksanakan perintah Allah SWT dan Rasulullah SAW (faktor eksternal).
tentang dua syarat tersebut Allah juga menjelaskan dalam Alqur'an :
"Dan barang siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah sedang dia orang yang mengerjakan kebaikan, maka sesungguhnya dia telah berpegang teguh pada buhul tali Allah yang kokoh..." (Q.S. Lukman : 22)
"Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia senantiasa mengerjakan kebaikan..." ( Q.S. An- Nisa: 125)
Yang dimaksud menyerahkan diri kepada Allah dalam dua kutipan ayat di atas adalah meng IKHLAS kan niat atas segala amal perbuatan hanya karena (pra-moment), dengan(in-moment) dan untuk(pasca-moment) Allah SWT (semata)tanpa disertai dengan tujuan yang lain. Sedangkan yang dimaksud "mengerjakan kebaikan" pada 2 ayat tersebut di atas ialah mengerjakan amal perbuatan dalam rangka melaksanakan perintah Allah dan Rasulullah dengan berusaha semaksimal mungkin agar tata cara pelaksanaannya bisa mengikuti contoh yang diberikan Rasulullah melalui sunnah Beliau dan sunnah para sahabat-sahabat beliau (khulafaaurraasyidiin).
Nah, untuk bisa mengikuti tata cara pelaksanaan amal ibadah agar sesuai dengan sunnah Rasulullah dan para sahabatnya kita harus memiliki ilmunya. Dengan demikian, ilmu juga menjadi syarat diterimanya amal ibadah kita oleh Allah SWT ( man 'amila 'amalan laisa alaihi ilmun fahuwa raddun: barang siapa mengerjakan amalan tanpa disertai dengan ilmu tentangnya maka amalan itu tertolak )
dengan demikian kita akan mendapatkan beberapa bentuk amal perbuatan :
1. ada amal perbuatan yang dikerjakan dengan ikhlas (diniatkan untk ibadah) tapi caranya tidak benar (tidak ada perintah dari Allah dan Rasulullah / tidak megikuti tata cara dalam sunnah Rasulullah ). kebanyakan ini dilaksanakan oleh masyarakat muslim awam yang sering mengesampingkan pentingnya ilmu syariat agama dalam beramal ibadah sehingga mereka berfikir...yang penting niatnya ikhlas karena Allah. Mudah-mudahan bentuk amal yang seperti ini dimaafkan dan semoga para pelakunya diberikan semangat untuk belajar syariat agama sehingga ke depanya dia tidak lagi beramal dengan kebodohannya tetapi beramal dengan ilmunya. (apakah kita di fase ini?)
2. ada amal perbuatan yang sudah mengikuti tata cara yang dicontohkan Rasulullah dan sahabatnya, tapi hatinya tidak ikhlas ( bukan karena Allah/ disertai dengan tujuan lain ). Kebanyakan ini dilakukan oleh orang yang sudah tahu, faham dan mungkin juga ahli syariat agama, akan tetapi setan berhasil menggoda hati mereka sehingga dalam melaksanakan perintah agama, hatinya tidak lagi semata karena Allah, tapi disertai sebab dan tujuan yang lain. Hampir semua kalangan ahli ibadah pernah mengalami ini karena di saat mereka beribadah pasti setan akan senantiasa menggoda (dari depan, belakang, kiri dan kanan).
Yang imannya pas-pasan, maka setan akan menggodanya dengan kemalasan. sehingga ia beribadah dengan berat hati, terpaksa dan asal-asalan.
Yang imannya kuat dan semangat dalam beribadah, maka setan akan menggodanya dengan membisikkan pujian-pujian di hati mereka:
kamu memang ahli ibadah,
kamu adalah orang paling alim di kantormu,
kamu adalah orang yang ikhlas,
kamu adalah orang yang rendah hati,
kamu adalah orang yang dermawan dan paling banyak sedekahnya,
kamu adalah orang yang paling bagus bacaan tilawahnya
kamu adalah orang yang paling bagus suara adzannya,...dan seterusnya dan seterusnya..! ketika kita mengiyakan bisikan setan maka disaat yang bersamaan kita telah menjadi riya'/ ujub (mohon mencari referensi yang lain tentang perbedaan riya' dan ujub). Semoga kita semua diselamatkan dari tipu daya setan yang terkutuk...amin. ( apakah kita di fase ini dan pernah mengalaminya? )
3. tidak ikhlas dan tidak ada perintah dan contoh dari Rasulullah (ini kita jumpai pada banyak tradisi adat di masyarakat kita).Ini jelas bahwa amalan yang seperti ini keluar dari urusan agama. bila ini dilaksanakan oleh masyarakat muslim, maka hal ini sangat berbahaya bagi keselamatan aqidah mereka. ( apakah kita pernah melakukannya? )
4. Amalan yang dikerjakan dengan hati yang ikhlas dan dikerjakan dengan tata cara yang sesuai dengan sunnah Rasulullah dan para sahabat beliau.
ini yang kita harapkan bersama. Semoga kita semua bisa berada di fase ini...amin.!
Minggu, 18 Oktober 2009
demi waktu
Ya Allah, betapa memang Engkau begitu tidak pernah berlaku dzolim pada kami, namun kami sendirilah yang berlaku dzolim pada diri kami sendiri ( Q.S. 2 : 57 ). Engkau telah memberitahukan bahwa dunia ini hanyalah sendau gurau belaka, tapi kami begitu mencintainya. Engkau ingatkan kami bahwa sebagian anak - istrimu akan menjadi musuh (fitnah) bagi kam tapi kami tetap berlebihan dalam mencintai mereka. Kebahagian mereka adalah kebahagian kami, kesedihan mereka adalah kesedihan kami. seakan kami tak peduli pada apapun yang penting mereka bisa tercukupi kebutuhannya di dunia ini. Kebutuhan sekolah mereka, makan mereka, baju mereka, rekreasi mereka dan sebaginya, tapi sedikit sekali kami berfikir tentang kebutuhan mereka akan hari esok yang lebih kekal. Ya... kami hanya berfikir tentang kebutuhan dan kesenangan mereka di dunia, tapi apa bekal mereka untuk hari akherat, sedikit sekali kami memikirkannya. bahkan untuk diri kami sendiri pun demikian.
Engkau berikan kami 24 jam dalam sehari, berapa banyak yang kami gunakan untuk beribadah kepada-Mu? Kami bekerja bukan dalam rangka beribadah kepada-Mu, karena kami sering melanggar aturan-Mu ketika bekerja, bahkan kami menghalalkan segala cara demi menuruti hawa nafsu pada materi. karena kami takut miskin, kami takut anak istri kami kelaparan, kurang gizi, tidak bisa membeli baju, perhiasan, perabot rumah, HP, kendaraan, Rumah dst. Hari libur hanya kami isi dengan rekreasi keluaga. dan ketika rekreasi, kami sering lupa kepada nikmat-Mu.
Ya Allah, kami sering bangga ketika kami berhasil meraih dunia. Kami bahagia ketika anak kami menjadi anak-anak yang cerdas pada pelajaran eksaktanya, tapi ya Allah, kami jarang sedih ketika anak-anak kami tidak melaksakan sholat lima waktunya, mengabaikan kewajiban puasanya, tidak pernah membaca kitab sucinya. Kami merasa biasa-biasa saja ketika setiap tahun berlalu tak juga bertambah hafalan kami akan surat dan ayat dalam AlQur'an yang mulia. Lesan kami mengakui bahwa AlQur'an sebagai petunjuk hidup kami, tapi kami jarang membaca-Nya... memahami isinya... mengamalkan ajarannya... apalah lagi menghafalkannya... tak pernah ada cita-cita di hati kami untuk menjadi penghafal alQuran karena hal itu akan menyita waktu yang bisa kami gunakan untuk mencari materi dan menyenangkan anak - istri.
Kami sering merasa cukup dengan amal ibadah kami kepada-Mu, tapi kami tak pernah merasa cukup dengan karunia materi yang Kau berikan kepada kami. Kami telah jatuh hati pada dunia ini ( anak istri dan materi ) dan karena itu kami takut mati!
Kami jarang peduli dengan urusan saudara seiman yang membutuhkan bantuan kami , karena kami menganggap bahwa kebutuhan anak istri sendiri belum tercukupi!
ketika sampai waktunya kami tua atau ketika jasad ini sudah tak lagi perkasa karena sakit yang kami derita, kemudian kematian telah terbayang di pelupuk mata jiwa, barulah kami sadar tentang kesalahan kami. betapa kami salah dalam menggunkan waktu semasa sehat dan sempat!
Ketika anak-anak telah menjadi dewasa tapi kurang bertaqwa, barulah kami sadari kesalahan kami bahwa kami salah memilihkan sekolah bagi mereka, kami kurang perhatian pada ruhani beragama mereka, kami kurang memberi contoh teladan kepada mereka tentang taqwa.
Ya Allah, ampunilah segala dosa kami. Berikan kami petunjuk-Mu agar kami mampu memanfaatkan waktu sesuai perintah-Mu, agar kami bisa meraih Ridho-Mu... amin! Jauhkan kami dari penyakit hati; terlalu cinta dunia dan takut mati... Amin!
Semoga bermanfaat... mohon maaf!
Engkau berikan kami 24 jam dalam sehari, berapa banyak yang kami gunakan untuk beribadah kepada-Mu? Kami bekerja bukan dalam rangka beribadah kepada-Mu, karena kami sering melanggar aturan-Mu ketika bekerja, bahkan kami menghalalkan segala cara demi menuruti hawa nafsu pada materi. karena kami takut miskin, kami takut anak istri kami kelaparan, kurang gizi, tidak bisa membeli baju, perhiasan, perabot rumah, HP, kendaraan, Rumah dst. Hari libur hanya kami isi dengan rekreasi keluaga. dan ketika rekreasi, kami sering lupa kepada nikmat-Mu.
Ya Allah, kami sering bangga ketika kami berhasil meraih dunia. Kami bahagia ketika anak kami menjadi anak-anak yang cerdas pada pelajaran eksaktanya, tapi ya Allah, kami jarang sedih ketika anak-anak kami tidak melaksakan sholat lima waktunya, mengabaikan kewajiban puasanya, tidak pernah membaca kitab sucinya. Kami merasa biasa-biasa saja ketika setiap tahun berlalu tak juga bertambah hafalan kami akan surat dan ayat dalam AlQur'an yang mulia. Lesan kami mengakui bahwa AlQur'an sebagai petunjuk hidup kami, tapi kami jarang membaca-Nya... memahami isinya... mengamalkan ajarannya... apalah lagi menghafalkannya... tak pernah ada cita-cita di hati kami untuk menjadi penghafal alQuran karena hal itu akan menyita waktu yang bisa kami gunakan untuk mencari materi dan menyenangkan anak - istri.
Kami sering merasa cukup dengan amal ibadah kami kepada-Mu, tapi kami tak pernah merasa cukup dengan karunia materi yang Kau berikan kepada kami. Kami telah jatuh hati pada dunia ini ( anak istri dan materi ) dan karena itu kami takut mati!
Kami jarang peduli dengan urusan saudara seiman yang membutuhkan bantuan kami , karena kami menganggap bahwa kebutuhan anak istri sendiri belum tercukupi!
ketika sampai waktunya kami tua atau ketika jasad ini sudah tak lagi perkasa karena sakit yang kami derita, kemudian kematian telah terbayang di pelupuk mata jiwa, barulah kami sadar tentang kesalahan kami. betapa kami salah dalam menggunkan waktu semasa sehat dan sempat!
Ketika anak-anak telah menjadi dewasa tapi kurang bertaqwa, barulah kami sadari kesalahan kami bahwa kami salah memilihkan sekolah bagi mereka, kami kurang perhatian pada ruhani beragama mereka, kami kurang memberi contoh teladan kepada mereka tentang taqwa.
Ya Allah, ampunilah segala dosa kami. Berikan kami petunjuk-Mu agar kami mampu memanfaatkan waktu sesuai perintah-Mu, agar kami bisa meraih Ridho-Mu... amin! Jauhkan kami dari penyakit hati; terlalu cinta dunia dan takut mati... Amin!
Semoga bermanfaat... mohon maaf!
Langganan:
Postingan (Atom)

