Jumat, 03 September 2010

Pantang bagi Murid untuk Mengisi Raportnya Sendiri

Ass! Apa kabar saudara seiman? semoga kita semua tetap dalam is]am dan iman, sehat jasmani dan ruhani serta selalu dalam kebaikan...amin!

saudara sekalian, dalam kesempatan kali ini penulis ingin mengajak kepada kita semua untuk menjaga niat dan semangat beribadah di beberapa hari terakhir bulan romadhan ini. karena kita tak tahu apakah kita masih bisa bertemu romadhan tahun depan.

beberapa hari terakhir, atas kehendak Allah, penulis mendapatkan beberapa nasehat yang sama dari sumber yang berbeda, yakni tentang "raport/ catatan amal kehidupan kita yang akan kita terima kelak nanti di akherat". Mulai dari teman diskusi, khutbah jum'at, kultum ba'da tarawih dan juga kajian subuh... alhamdulillaah!

sebagaimana kita tahu dan yakin bahwa setiap manusia akan menerima catatan amalnya mulai dari baligh hingga tutup usia, baik yang sederhana hingga yang luar biasa, baik yang tersembunyi hingga yang terdeklarasi, baik niat di hati- terucap dilisan hingga yang terwujud dalam sikap laku sehari-hari.
siapa yang berbuat baik maka akan dibalas baik, siapa yang berlaku buruk maka akan dibalas serupa, kecuali Allah berkehendak lain (memaafkannya).
ada yang menerima catatan amalnya dari tangan kanan dan disampaikan dengan cara yang sopan dan lembut, namun ada yang menerima catatan amalnya dari tangan kiri dan disampaikan dengan cara kasar dan dilempar!(Na'udzubillah)

Hikmah dari nasehat ini bagi penulis adalah :
Kita tak pernah tahu tentang catatan amal kita nanti (baik/buruk, diterima dari kanan/ kiri, disampaikan dengan cara sopan/ kasar), karena raport kita bukan kita sendiri yang ngisi.
ibarat guru dan murid, sepandai-pandai murid, pantang bagi murid untuk mengisi raportnya sendiri,apalagi mengisi raport teman/orang lain. kalau raport sendiri saja kita tak tahu pasti, bagaimana kita mengaku bisa menilai raport orang lain.
makna kiasnya...silahkan pembaca mencernanya sendiri...!

semoga tulisan singkat ini menjadi inspirasi kebaikan diri... amin
wass.

Kamis, 02 September 2010

mulia dan hinanya manusia

Assalamu'alaikum warohmatullaahi wabarookatuh

saudara sekalian...
semoga Allah swt senantiasa karuniakan hidayah, rahmah dan maghfirohnya kepada kita semua...amin

sholawat dan salam atas nabi dan semoga keselamatan bagi hamba-hamba yang sholih! (amin)

saudara sekalian, dalam Q.S.2 ; 30, Allah menyampaikan kepada kita betapa tujuan manusia di muka bumi adalah sebagai kholifah! walaupun malaikat keberatan atas hal ini, namun Allah tetap dengan kehendakn-Nya, karena Allah lebih mengetahui atas apa-apa yang malaikat tidak ketahui.

selanjutnya, Q.S. :31, Allah mengajarkan kepada adam nama-nama setiap benda (sebagai bekal menjadi kholifah di muka bumi)sehingga adam mengetahui nama-nama benda yang sebelumnya ia tak tahu!
hikmah ayat ini adalah :
sesungguhnya semua kegiatan menuntut ilmu (baik formal maupun informal) tidak lepas dari tujuan agar kita mengetahui nama-nama. Sebaliknya, tanda-tanda orang berilmu adalah ketika ia mampu menyebut nama-nama (disertai memahami maknanya). semakin banyak ia bisa menyebut nama-nama maka ia dianggap semakin tinggi ilmunya.

karena ilmu berupa kemampuan untuk menyebut nama-nama inilah adam dimuliakan oleh Allah bahkan Allah memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada adam, kemudian malaikat pun bersujud kepadanya kecuali iblis (sebutan untuk malaikat yang membangkang/ tidak mau sujud kepada adam). maka iblis ini Allah golongkan ke dalam golongan orang-orang kafir (Q.S. 2:34)

kemudian di ayat berikutnya (Q.S. 2:35), Allah mempersilahkan adam untuk tinggal di syurga bersama pasangannya (hawa) dan menikmati semua fasilitas kenikmatan yang ada di dalamnya, kecuali mendekati suatu pohon tertentu ( yang kemudian Allah jelaskan di dalam Q.S. 20 : 120 sebagai pohon keabadian (khuldi) ).

ketika mengetahui bahwa ada larangan bagi adam dan hawa untuk mendekati pohon khuldi maka iblis yang telah memiliki rasa benci dan dendam kepada adam (karena adam, iblis dilaknat Allah, dikeluarkan dari syurga dan bakal dimasukkan ke neraka)
berusaha dengan berbagai cara untuk menjerumuskan adam dan hawa agar melanggar larangan Allah SWT tersebut.

maka, dicarilah kelemehan adam dan akhirnya ia mendapati bahwa adam sangat mencintai istrinya. selanjutnya, iblis mempengaruhi hawa agar hawa mau membujuk adam untuk melanggar larangan allah. singkat kisah, akhirnya adam menuruti permintaan hawa yang sudah terpedaya bujuk rayu setan (jika mau memakan buah dari pohon khuldi, maka mereka akan kekal di syurga).
begitu mereka (adam dan hawa) memakan buah khuldi, maka serta merta tersingkaplah aurat keduanya. Allah murka kepada keduanya dan memerintahkan mereka keluar dari syurga dan turun ke bumi.

hikmah yang bisa kita ambil dari kisah adam dan hawa ini:
1. bimbinglah para wanita :
pihak yang pertama kali tertipu oleh bujuk rayu iblis adalah wanita (hawa). oleh karena itulah ada riwayat yang mengatakan bahwa baik-buruknya suatu masyarakat/ bangsa/ keluarga dapat dilihat dari kualitas keimanan dan ketaqwaan wanita-wanita yang ada di dalamnya.
Riwayat yang lain, ketika rasul isa' mi'raj, rosul melihat bahwa kebanyakan isi neraka adalah wanita.

2. Janganlah mencintai wanita secara berlebihan:
adam tak kuasa menolak permintaan hawa yang sangat dicintainya bahkan berakibat pada perbuatan yang melanggar larangan Allah SWT yang menciptakannya. maka sampai hari ini, berapa banyak suami yang tak kuasa menolak kemauan istri dan tak jarang sampai suami harus melanggar larangan Allah demi istri. hati-hatilah dengan istri kita, karena sering kali istri (keluarga) menjadi pintu masuk iblis untuk menggoda kita.

3. Perhatikanlah cara kita mendapatkan rizki khususnya makanan/ minuman/ buah-buahan dsb;
terbukti karena melanggar larangan memakan buah akhirnya adam dan hawa harus dikeluarkan dari syurga. agama mengajarkan konsep halalan thoyyiban

4. hikmah yang terpenting, karena ilmu, manusia dimuliakan namun hawa nafsu bisa merusak bahkan menghilangkan semuanya (ilmu dan kemuliaan);
ilmu yang ada pada adam (yang membuatnya dimuliakan Allah bahkan malaikat sujud kepadanya karena kelebihan ilmu yang dimilikinya) tidak bisa membuatnya selamat dari tipu daya iblis. Ini karena adam telah mengikuti hawa nafsunya. akhirnya, jadilah ia hina karenanya. oleh karena itu, kendalikanlah hawa nafsumu dengan iman, ilmu dan amal sholehmu, jika tidak maka hawa nafsumu yang akan menghilangkan ilmu dan akal sehatmu sehingga rusaklah iman dan amalmu..!!! (na'udzubillahi min dzaalik)

Wallaahu a'lam!
semoga bermanfaat

Assalaamu'alaikum wr.wb.

Kamis, 29 April 2010

Kesholehan Personal Hendaknya Melahirkan Kesholihan Sosial

"Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (QS. Al-Hajj: 77)
Ayat ini merupakan ayat kedua terakhir dari surah yang unik dan istimewa, surah al-Hajj. Dikatakan surah yang unik karena sebagian ulama tafsir menggolongkan surah ini ke dalam kategori surah Makkiyah, namun sebagian yang lain justru sebaliknya menggolongkannya ke dalam kategori surah Madaniyah. Surah ini juga unik karena di dalamnya ada dua ayat sajdah, yaitu ayat 18 dan ayat ini seperti yang di pahami dari sebuah riwayat dari Uqbah bin Amir:
”Keutamaan surah al-Hajj karena terdapat dua ayat sajdah padanya. Barangsiapa yang tidak bersujud pada keduanya, janganlah ia membaca surah ini.” (HR. at-Tarmidzi dan Abu Dawud)
Ayat ini menggambarkan secara ringkas manhaj Allah SWT untuk manusia dan beban taklif bagi mereka agar mendapatkan keselamatan dan kemenangan. Ia di awali dengan perintah untuk rukuk dan sujud yang merupakan gambaran gerakan shalat yang tampak dan jelas, dilanjutkan dengan perintah untuk beribadah secara umum yang meliputi segala gerakan, amal dan pikiran yang di tujukan hanya kepada Allah SWT sehingga segala aktivitas manusia bisa beralih menjadi ibadah bila hati ditujukan hanya kepada Allah SWT bahkan Kenikmatan-kenikmatan dari kelezatan hidup dunia yang dirasakannya dapat bernilai ibadah yang di tulis sebagai pahala amal baik .
Ayat ini di tutup dengan perintah berbuat baik secara umum dalam hubungan horizontal dengan manusia setelah perintah untuk membangun hubungan vertikal dengan Allah SWT, dalam shalat dan ibadah lainnya. Oleh sebab itu, perintah ibadah dimaksudkan agar umat Islam selalu terhubung dengan Allah SWT sehingga kehidupan berdiri di atas fondasi yang kukuh dan jalur yang dapat membawa kepada-Nya. Sedangkan perintah untuk melakukan kebaikan, dapat membangkitkan kehidupan yang istiqamah dan kehidupan masyarakat yang penuh dengan suasana kasih sayang.
Perintah ini dipertegas kembali di akhir surah al-Hajj, bahwa umat Islam akan mampu mempertahankan eksistensinya sebagai umat pilihan dan sebagai saksi atas umat yang lain manakala mampu membina hubungan baik dengan Allah SWT dan membina hubungan baik sesama manusia:
”Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (AL-Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah pelindungmu, Dialah sebaik-baik pelindung dan Sebaik-baik penolong.” (QS. al-Hajj:78)
Pada ayat di atas, Allah SWT memberi perintah kepada orang beriman agar mampu membangun kesalehan personal dan sosial secara bersamaan agar senantiasa dalam kemenangan, rukuk dan sujud merupakan cermin tertinggi dari pengabdian seseorang kepada Allah SWT, sedang ”berbuatlah kebaikan” merupakan indikasi kesalehan sosial.
Secara redaksional dalam urutan perintah ayat di atas, ternyata Allah SWT mendahulukan kesalehan personal dari kesalehan sosial. Ini berarti bahwa untuk membangun kesalehan sosial, harus dimulai dengan kesalehan personal. Atau kesalehan personal akan memberikan kekuatan untuk saleh juga secara sosial. Bahkan seluruh perintah beribadah kepada Allah SWT dimaksudkan agar lahir darinya kesalehan sosial, seperti shalat misalnya, bagaimana ia bisa mencegah dari perbuatan keji dan munkar:
“Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar.” (QS. Al Ankabut : 45)
Kisah yang diabadikan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya bagaimana seorang wanita yang saleh secara personal yang diwujudkan dengan ibadah shalat, puasa dan ibadah mahdhah lainnya namun ternyata Rasulullah SAW menyatakan bahwa ia dalam neraka. Karena ternyata kesalehan itu tidak membawanya menuju kesalehan sosial, bahkan ia cenderung tidak mampu menjaga lisannya dari tidak melukai hati orang lain.
Dalam tataran tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, terdapat beberapa hubungan dan korelasi (munasabah) yang sangat erat antara kesalehan personal dan sosial dengan nilai-nilai mulia dari ajaran Islam. Untuk menggapai predikat ihsan misalnya, seseorang dituntut untuk mampu sholeh secara individu dan sosial yang diwakili dengan shalat malam dan berinfak,
“Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar. Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (QS. Adz-Dzariyat : 16-19)
Ibnu Asyur mengomentari ayat ini dengan menjelaskan bahwa dua bentuk amal inilah yang sangat berat untuk dilakukan karena: pertama, bangun malam merupakan sesuatu yang sangat berat karena mengganggu istirahat seseorang. Padahal amal itu merupakan amal yang paling utama untuk membangun kesalehan personal seseorang. Kedua, amal yang melibatkan harta terkadang sangat sukar untuk dipenuhi karena manusia pada dasarnya memiliki sifat kikir dengan sangat mencintai hartanya. Di sinilah Allah SWT menguji kesalehan sosial seseorang dengan memintanya untuk mengeluarkan sebagian harta untuk mereka yang membutuhkan.
Nilai lain yang terkait dengan dua kesalehan ini, adalah sebab utama yang paling banyak menjerumuskan seseorang ke dalam neraka karena tidak mampu membentengi diri dengan dua kesalehan tersebut, seperti pernyataan jujur penghuni neraka yang diabadikan Allah SWT dalam firman-Nya,
“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab, ’Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat dan kami tidak pula memberi makan orang miskin dan adalah kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya.” (QS. Al-Mudatsir : 42-45)
Resep agar tidak bersifat keluh kesah lagi kikir juga sangat terkait dengan kemampuan seseorang membangun dalam dirinya dua kesalehan tersebut secara simultan. Allah SWT memberi jaminan,
“Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang miskin yang meminta dan orang yang tidak memiliki apa-apa (yang tidak mau meminta).” (QS. Al-Ma’arij : 22-25)
Berapa banyak dari umat ini yang hanya mementingkan saleh secara sosial tapi lupa akan hubungan baik dengan Allah SWT. Sebaliknya, banyak juga yang saleh secara personal namun ketika berhadapan dengan sosial, ia larut dan tidak mampu membangun kesalehan di tengah-tengah mereka. Sungguh umat ini sangat membutuhkan kehadiran komunitas yang saleh secara personal, dalam arti mampu menjaga hubungan baik dengan Allah SWT. Saleh secara sosial dalam arti mampu memelihara hubungan baik dan memberi kebaikan dan manfaat yang besar bagi kemanusiaan. (Allahu a’lam)

Kamis, 01 April 2010

karena kita bersaudara

Assalaamu'alaikum wr.wb.,

Dalam sebuah hadist Rasul memberitahukan dan mewajibkan kita sekalian bahwa sesungguhnya sesama muslim itu adalah (harus/ wajib) bersaudara. dalam riwayat yang lain dikatakan bahwa Sesama muslim adalah ibarat satu tubuh. serta dalam hadist yang lain Rasul pun bersabda "tidak beriman di antara kalian sehingga kalian mencintai saudara kalian sebagaimana kalian mencintai diri sendiri.

Ciri-ciri bahwa kita mencintai saudara kita adalah ketika hati kita menghendaki segala bentuk kebaikan ada pada saudara kita. Bagi saudara kita yang saat ini sedang dalam kesempitan, maka kita berharap dan berdoa smoga Allah segera melapangkannya. bagi saudara kita yang sedang dalam kesulitan, maka kita berdoa smoga Allah segera memudahkan urusannya dan semaksimal mungkin meringankan beban mereka.
Kita pun berharap dan berdoa agar Allah menyembuhkan saudara kita yang sedang sakit, menghibur mereka yang sedang berduka, memberikan makanan bagi saudara kita yang sedang kelaparan, dan bahkan memberikan mereka keamanan dan kemerdekaan serta kemenangan bagi saudara kita yang saat ini sedang merasa terancam karena ditindas, dijajah dan dianiaya oleh orang yang memusuhi dan membenci mereka karena mereka beriman kepada Allah SWT.

Maka sebaliknya, ketika di hati kita tidak ada kepedulian kepada saudara seiman (walaupun mereka sedang terancam jiwa, harta dan agamanya) maka sesungguhnya (sesuai hadist di atas) kita bukanlah orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya.
Lalu... kita beriman kepada siapa?
(Na'udzubillaahi min dzaalik)

Penulis mengajak kepada diri sendiri, keluarga dan Saudara semua, marilah kita peduli kepada saudara kita di daerah minus yang menjadi sasaran pemurtadan, saudara kita yang sedang ditimpa bencana alam, saudara kita yang lemah ilmu dan harta sehingga sangat mungkin membuat mereka lemah iman, bahkan saudara kita di mana saja mereka berada yang saat ini sedang dirampas harta bendanya kemudian diusir dari rumah dan tanah mereka sendiri, suami dan anak laki-laki mereka dibunuh dengan kejam di sana-sini.
Kasus di Irak, Kashmir, Cechnya, dan Palestina menjadi bukti...!
Pedulikah kita kepada mereka? jika tidak sama sekali... masih adakah iman di hati..???

Astaghfirullaahal adzim wa atuubu ilaih.

Wassalaamu'alaikum Wr. Wb.

Minggu, 31 Januari 2010

2 tetesan dan 2 bekas yang paling dicintai Allah SWT...

Dalam sebuah hadist riwayat tirmidzi, 2 tetesan yang paling dicintai Allah adalah :
1. tetesan air mata karena takut kepada Allah
2. tetesan darah ketika jihad di jalan Allah

dan 2 bekas yang paling dicintai Allah adalah:
1. bekas luka karena jihad di jalan Allah
2. bekas langkah kaki ketika sungguh - sungguh melaksanakan dan menegakkan syariat Allah.

Wallaahu a'lam. smoga manfaat dan menjadi kebaikan.

Perkara terbesar dalam hidup...

Suatu pagi, ketika kuliah baru saja di mulai, seorang dosen meletakkan beberapa ember/ timba. 1 timba berisi 1 (satu) batu besar, 1 timba yang lain berisi kerikil, 1 timba yang lain lagi berisi pasir, 1 timba berisi air dan 1 ember (yang paling besar) dalam keadaan kosong.
kemudian sang dosen bertanya pada mahasiswanya, bagaimana kita bisa memenuhi ember yang kosong ini dengan beberapa material berupa batu besar, kerikil, pasir dan air dengan catatan tidak boleh tumpah. Maka setelah berpikir, beberapa mahasiswa berbeda pendapat. ada yang mulai dari kerikil baru pasir kemudian batu besar dan air. Ada yang mulai dari memasukkan pasir, kerikil kemudian air baru kemudian batu besar sehingga airnya pun tumpah. Dan ada seorang mahasiswa yang dengan tenang  memulai dengan meletakkan 1 batu besar, kemudian kerikil, baru pasir dan terakhir air sehingga ember kosong itu terisi penuh dengan sempurna.
Sang dosen Pun kemudian menjelaskan bahwa yang paling benar adalah yang terkahir ini.
Kemudian salah seorang mahasiswa bertanya, mohon bapak jelaskan kepada kami mengapa yang terakhir itu yang paling benar.
sang dosen pun menjelaskan :
" Saudara sekalian, sebenarnya ini adalah pelajaran hikmah,
ember kosong ini ibarat jatah usia kita, yang harus kita isi agar hidup kita bermakna  dan bernilai di sisi Allah SWT.
Maka yang pertama kita harus mengisinya dengan perkara yang utama dan terpenting ( yang diibaratkan batu besar ).
Tentu saja ember tidak akan terpenuhi hanya dengan batu besar sehingga untuk mengisi ruang - ruang kosong dalam ember perlu ditambah dengan kerikil (perkara penting tapi bukan yang terpenting).
Apakah ember tadi sudah penuh ketika telah diisi batu besar dan kerikil, tentu saja belum karena pasti masih ada ruang - ruang kosong disela-sela batu besar dan kerikil, sehingga perlu diisi dengan materi yang lebih kecil lagi yakni pasir.
Nah, apakah ember sudah penuh dengan sempurna, tentu saja belum. Oleh karena itu perlu ditambah air sehingga ember penuh dengan sempurna.

Begitulah seharusnya kita mengisi umur kita yang terbatas ini. isilah umurmu dengan perkara yang terpenting dulu ( yakni AGAMA / aqidah tauhid dan segala upaya agar istiqomah di dalamnya), baru kemudian perkara penting namun bukan yang terpenting (kerikil), perkara ringan / kecil (pasir) dan agar tidak jenuh kita butuh penyegar suasana dan penyempurna bahagia (air)."

Pastikan bahwa perkara terpenting hidup Anda adalah AQIDAH Anda (karena itu adalah bekal utama bagi kehidupan kita setelah kehidupan di dunia, baru kemudian Silahkan pilih perkara penting/ ringan/ kecil dan penyempurnanya (tentu saja yang tidak merusak Aqidah kita)!

Wallaahu a'lam. Subhaanakallaahumma wa bikhamdika asyhadu allaa ilaaha illaa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika.

Selasa, 03 November 2009

Resiko Besar bagi Perokok

Dakwatuna.com - Melbourne, Pria perokok mungkin merasa bahagia saat kumpul dengan teman-temannya, namun tidak dengan pasangannya di ranjang. Berdasarkan studi di Australia, pria yang merokok berisiko empat kali lebih sulit mencapai orgasme dibanding pria yang tidak merokok.

Hasil studi menunjukkan bahwa masalah seksual pada pria yang sering muncul ada dua jenis, yaitu tidak bisa mencapai klimaks dan terlalu cepat terangsang (ejakulasi dini). Namun masalah yang banyak dialami pria perokok adalah kesulitan mencapai klimaks atau orgasme.
Peneliti dari University of Melbourne Research Center in Sex, Health and Society menyebutkan bahwa pria yang sering merokok rata-rata mengalami ejakulasi dini hingga tiga kali lebih tinggi dibanding pria yang tidak merokok. Sementara itu, mereka yang sulit mencapai klimaks atau orgasme jauh lebih besar yaitu empat kali lipat.
“Jika sudah begitu, pria perlu pengobatan medis untuk memperlambat orgasme dan atau mencapai orgasme,” ujar Anthony Smith, seorang profesor di Universitas tersebut seperti dikutip dari LimeLife, Selasa (20/10/2009).
Selain itu, gangguan seksual pada pria meliputi gangguan libido dan ereksi. Gangguan disfungsi ereksi (DE) dan kesulitan mencapai orgasme adalah yang paling banyak terjadi pada perokok.
Cara pengobatan yang kini lazim dipakai adalah, pertama-tama menghentikan kebiasaan merokok. Kemudian dicoba dengan arterialisasi atau semacam bedah by-pass dengan menambah pembuluh darah baru pada penis yang diambil dari pembuluh darah pada bagian lain tubuh. Namun keberhasilan dari pengobatan ini tidak bisa mencapai 100 persen.
Tidak hanya gangguan fungsi seksual, seseorang yang merokok pun kualitas spermanya akan berkurang. Seorang yang merokok selama bertahun-tahun akan tercemar darahnya oleh nikotin yang melalui pembuluh darah akan dibawa ke seluruh tubuh, termasuk ke organ reproduksi.
Racun nikotin akan berpengaruh terhadap spermatogenesis atau proses pembelahan sperma para pria. Padahal pembelahan itu sangat kompleks, yang kemudian bisa menjadi gen dari si pemilik sperma. Jadi bila terjadi kegagalan pada proses spermatogenesis tersebut, pria bisa menurunkan gen cacat pada anaknya kelak.
Rokok bagaikan pabrik bahan kimia yang memiliki senyawa beracun diantaranya CO, nitrogen oksida, sianida, hidrogen, amonia, asetilen, benzaldehida, benzena, metanol, yang semuanya bisa mengganggu kesehatan, termasuk organ reproduksi.
Apakah Anda masih merasa nyaman untuk melanjutkan aktifitas merokok Anda?